IMG_20160902_112135

    Cikiray – Jumat (02/09/2016), perangkat desa Cikiray mengadakan jamuan Nasi liwet  untuk Pendamping Desa Cikidang Kang Bayu, Pendamping Desa Cikiray Kang Enjeh, Babinkamtibmas Desa Cikiray Rifyanto, dan Mahasiswi Universitas Pakuan (UNPAK) yang sedang KKN. “Saya terkesan di jamu nasi liwet, dan baru pertama kali saya merasakan suasana makan Nasi liwet ini, ” tegas Kang Bayu.

    Budaya Sunda memang kaya. Salah satu kekayaan budaya Indonesia adalah budaya ngaliwet yang hanya ada di suku Sunda. Ngaliwet artinya adalah memasak nasi liwet. Dan Nasi Liwet adalah nasi yang hanya ditanak sekali (tanpa dikukus lagi) dengan dicampur dengan rempah-rempah seperti kunyit, daun salam dll yang membuat nasi lebih beraroma dan enak.

    Cara memasak yang kelihatannya mudah ini sebenarnya membutuhkan keahlian dan ketelitian yang luar biasa. Karena hanya dimasak satu kali, maka takaran air harus pas. Karena jika tidak pas maka nasi akan menjadi setengah matang dan jika kelebihan akan menjadi seperti bubur. Cara memasak seperti ini pada awalnya dipakai oleh orang Sunda untuk mengefektifkan waktu dalam memasak. Biasanya dimasak saat sedang istirahat bekerja di sawah, hutan, atau perjalanan. Dimasak dengan tungku atau hanya kayu bakar. Sambal, lalapan, dan ikan ikan asin biasanya adalah peserta tetap pendamping nasi liwet yang disajikan.

    Cara penyajiannya pun unik. Nasi liwet yang sudah matang, lauk, dan sambal dibagi merata di atas daun pisang yang lebar. Kemudian orang-orang berkeliling untuk memakannya. Cara makan yang seperti ini dapat mempererat tali silaturahmi dan dan wujud kebersamaan.

    IMG_20160902_112236

     

    Bagikan Berita